Tiga Jenis Orang

Jenderal Charles Gordon pernah mengajukan dua buah pertanyaan kepada Li Hung Chang, seorang pemimpin China yang sudah lanjut usia, demikian,”Apakah kepemimpinan itu? Dan, bagaimana umat manusia dapat digolongkan? ” Ia menerima jawaban yang mengandung arti tersembunyi “Hanya ada tiga jenis manusia di dunia ini, yaitu mereka yang tidak dapat digerakkan, mereka yang dapat digerakkan dan mereka yang menggerakkan orang-orang itu.”
Memang benar kepribadian merupakan faktor yang penting.”Taraf pengaruh seseorang bergantung pada kepribadian orang itu,” tulis Lord Montgomery, “pada kekuatan daya pijarnya, pada nyala yang ada di dalam dia, dan pada daya tarik yang akan menarik orang-orang lain kepadanya.”

Dari “Secangkir Sup Bagi Jiwa Anda oleh Drs.Timotius Adi Tan”

Posted in Motivator | Tagged , | Leave a comment

Catatan: Bung Karno dengan Seni Rupa

Kiranya kita masih ingat, bahwa Bung Karno tidak mungkin dimungkiri sebagai figur yang kenamaan dal;am berpidato. Pidfato yang diucapkan berjam-jam, mampu memaku para pendengarnya untyuk tetap berada di tempat sambil menyimak apa saja untaian pikiran yang lagi diucapkan dan dikembangkan Bung Karno.
Demikianlah sejarah telah mencatat kepiawaian dan kewibawaan pada 1 Juni 1945, waktu mengucapkan gagasannya perihal Dasar Negara. Dari catatan stenografis mengenai pidatonya itu lahirlah buku berjudul: Lahirnya Pancasila
Selain kecajkapan berpidato, keahliannya di bidang politik, ketekunannya dalam membina Bangsa, keramahannya terhadap semua orang, tingghi sensitivitasnya dan aprersiasinya di bidang kesenian pada umumnya, seni rupa pada khususnya.

“Dullah”, demikian ucapnya pada suatu hari kepada pelukis kenamaan kita, “Jika aku tidak dalam politik, aku akan menjadi pelukis atau dalang”.
Kata-kata Bung Karno terbukti secara menyeluruh

Posted in Kenangan | Tagged , , , | Leave a comment

Arti Nama Dengan Huruf Depan E

ARTI NAMA-NAMA ANAK (CAMPURAN)
Dengan Huruf Awal A
A, B, C, D, E, F, G, H, I ,J , K, L , M, N, O, P,Q, R, S,T, U, V, W,X,Y,Z



Nama, P/L ,arti

Ega (Teutonic) L = Dahsyat, hebat
Eli(Ibrani) = Yang Mulia
Eben(Ibrani) = Batu
Eden (Ibrani) = Kegembiraan,kesenangan
Devi (Hindustan) P = Dewi
Davina (Ibrani) P = Kekasih
Don (Celtic) L = Tuan/Gusti
Dora (Yunani) P = Pemberian

Ezra (L) = pertolongan Ezra 3:1-3

Fayyadh (Arab)Orang yang mulia

Fawwaz (Arab) orang yang beruntung, unggul, menang

Febe (P) = berseri-seri Roma 16:1-2

Filemon (L) = penuh kasih sayang

Filipus (L) = penyayang kuda Lukas 3:1

Gabriel (L) = pahlawan Allah [malaikat] Dan 8:16

Gamaliel (L) = Allah membebaskan Kis 5:34

Gideon (L) = orang perang Hak 6-8

Gomer (L) Tuhan telah menyempurnakan Kej 10:2

Gad (L) = kejujuran 1 Samuel 22:5

Hagai (L) dilahirkan pada hari raya Hagai 1:9

Hana / Anna (P) = Tuhan memberi kasih karunia Lukas 2:36

Hanani (L) = sangat ramah 1 Taw 25:4,25

Hananya (L) [teman Daniel] Dan 1:6-7

Harun (L) = yang diterangi Kel 6:19 & 7:7

Hawa/Eva (P) = pemberi hidup Kej 2 : 21

Heman (L) = setia 1 Raj 4:31

Henokh (L) = pengikut, ditahbiskan Kej 4:17

Hizkia (L) = Tuhan adalah kekuatanku 2 Raj 18

Hosea (L) = keselamatan 2 Raj 17:1

Isai (L) [ayah Daud] 1 Sam 16

Isakhar (L) = Allah memberi upah Kej 30:13

Ishak (L) = ia tertawa Kej 17:16-22 & 18:10-15

Itamar (L) [putra Harun] Kel 6:23

Jane (P)(Ibrani)Gadis muda, Tuhan Maha Pengasih

Janet (P) Gadis remaja

Kaleb (L) = anjing Bil 13

Kayafas/Kefas (L) = batu karang, gunung batu Luk 3:2 &Mat 26:3,57-58

Kerenhapukh (P) [anak Ayub] Ayub 42:14

Kezia (P) = harum, wangi Ayub 42:14

Klaudia (P) [wanita di Roma] 2 Tim 4:21

Klemens (L) = penuh belas kasihan Fil 4:3

Kleopas (L) = orang yang ayahnya termashur Luk 24:13

Kornelius (L) = yang bertanduk Kis 10:1

Lakeisha (P)(Arab) = hidup sejahtera

Maeko (P)(Jepang)Anak yang jujur

Maggie (P)(Yunani/Gaelik)Mutiara

Matius (L) = pemberian Allah Luk 3:27

Melkisedek (L) = raja Salem / keadilan Ibr 5:7

Misael (L) = siapa seperti Allah Dan 1:7

Mikha (L) = siapa seperti Yahwe Hak 17&18

Mikhael (L) = siapa seperti Yahwe Wahyu 12:7

Mikhael (P) idem 2 Sam 6:16 & 20-23

Milka (P) = ratu

Musa (L) = diangkat dari air Kel 1:15

Naaman (L) = manis, elok 2 Raj 15

Nagata (Jepang)= masa depan cerah

Nisriina (P)(Arab) = Mawar Putih

Odakota (L/P)(Indian Amerika)Kawan/sahabat

Quana (P)(Indian Amerika) Wangi/parfum

Salsabilla (P)(Arab) =Mata air sorga

Sashikirana (Sansekerta) Bulan Purnama

Satinka (P) (Indian Amerika) Tarian ritual

Shasta (P)(Indian Amerika)Pohon

Silas / Silvanus (L) [partner Paulus] Kis 15:22

Simeon (L) = dikabulkan Luk 2:25

Simon (L) = dikabulkan/ didengar Luk 6:15, Mat 27:32

Stefanus (L) = karangan bunga Kis 6&7

Susana (P) = bunga bakung Luk 8:3

Tabita (P) = kijang (ibr= dorkas) Kis 9:36

Tadeus (L) = anak tercinta Mat 10:3

Teofilus (L) = sahabat Allah Luk 1:4 & Kis 1:1

Timotius (L) = yang saleh 2 Tim 1:5

Tiranus (L) = lalim Kis 19:9

Tirza (P) = bungsu/sangat menyenangkan Bil 26,33 &27:1& 36:11

Titus (L) = burung merpati 2 Kor 7:6 & 3:4-5

Thomas (L) = anak kembar Yoh 11:16



Posted in Lingua | Leave a comment

Arti Nama Huruf Depan D

ARTI NAMA-NAMA ANAK (CAMPURAN)
Dengan Huruf Awal A
A, B, C, D, E, F, G, H, I ,J , K, L , M, N, O, P,Q, R, S,T, U, V, W,X,Y,Z



Nama, P/L ,arti

Damara (Yunani) P = Dara lemah lembut, gadis anggun
Damasa (Prancis kuno) P =Gadis
Daniel (Ibrani) = Hakimku adalah Tuhan
Darius (Persias) = Pria maha kaya
Devi (Hindustan) P = Dewi
Davina (Ibrani) P = Kekasih
Don (Celtic) L = Tuan/Gusti
Dora (Yunani) P = Pemberian

Ezra (L) = pertolongan Ezra 3:1-3

Fayyadh (Arab)Orang yang mulia

Fawwaz (Arab) orang yang beruntung, unggul, menang

Febe (P) = berseri-seri Roma 16:1-2

Filemon (L) = penuh kasih sayang

Filipus (L) = penyayang kuda Lukas 3:1

Gabriel (L) = pahlawan Allah [malaikat] Dan 8:16

Gamaliel (L) = Allah membebaskan Kis 5:34

Gideon (L) = orang perang Hak 6-8

Gomer (L) Tuhan telah menyempurnakan Kej 10:2

Gad (L) = kejujuran 1 Samuel 22:5

Hagai (L) dilahirkan pada hari raya Hagai 1:9

Hana / Anna (P) = Tuhan memberi kasih karunia Lukas 2:36

Hanani (L) = sangat ramah 1 Taw 25:4,25

Hananya (L) [teman Daniel] Dan 1:6-7

Harun (L) = yang diterangi Kel 6:19 & 7:7

Hawa/Eva (P) = pemberi hidup Kej 2 : 21

Heman (L) = setia 1 Raj 4:31

Henokh (L) = pengikut, ditahbiskan Kej 4:17

Hizkia (L) = Tuhan adalah kekuatanku 2 Raj 18

Hosea (L) = keselamatan 2 Raj 17:1

Isai (L) [ayah Daud] 1 Sam 16

Isakhar (L) = Allah memberi upah Kej 30:13

Ishak (L) = ia tertawa Kej 17:16-22 & 18:10-15

Itamar (L) [putra Harun] Kel 6:23

Jane (P)(Ibrani)Gadis muda, Tuhan Maha Pengasih

Janet (P) Gadis remaja

Kaleb (L) = anjing Bil 13

Kayafas/Kefas (L) = batu karang, gunung batu Luk 3:2 &Mat 26:3,57-58

Kerenhapukh (P) [anak Ayub] Ayub 42:14

Kezia (P) = harum, wangi Ayub 42:14

Klaudia (P) [wanita di Roma] 2 Tim 4:21

Klemens (L) = penuh belas kasihan Fil 4:3

Kleopas (L) = orang yang ayahnya termashur Luk 24:13

Kornelius (L) = yang bertanduk Kis 10:1

Lakeisha (P)(Arab) = hidup sejahtera

Maeko (P)(Jepang)Anak yang jujur

Maggie (P)(Yunani/Gaelik)Mutiara

Matius (L) = pemberian Allah Luk 3:27

Melkisedek (L) = raja Salem / keadilan Ibr 5:7

Misael (L) = siapa seperti Allah Dan 1:7

Mikha (L) = siapa seperti Yahwe Hak 17&18

Mikhael (L) = siapa seperti Yahwe Wahyu 12:7

Mikhael (P) idem 2 Sam 6:16 & 20-23

Milka (P) = ratu

Musa (L) = diangkat dari air Kel 1:15

Naaman (L) = manis, elok 2 Raj 15

Nagata (Jepang)= masa depan cerah

Nisriina (P)(Arab) = Mawar Putih

Odakota (L/P)(Indian Amerika)Kawan/sahabat

Quana (P)(Indian Amerika) Wangi/parfum

Salsabilla (P)(Arab) =Mata air sorga

Sashikirana (Sansekerta) Bulan Purnama

Satinka (P) (Indian Amerika) Tarian ritual

Shasta (P)(Indian Amerika)Pohon

Silas / Silvanus (L) [partner Paulus] Kis 15:22

Simeon (L) = dikabulkan Luk 2:25

Simon (L) = dikabulkan/ didengar Luk 6:15, Mat 27:32

Stefanus (L) = karangan bunga Kis 6&7

Susana (P) = bunga bakung Luk 8:3

Tabita (P) = kijang (ibr= dorkas) Kis 9:36

Tadeus (L) = anak tercinta Mat 10:3

Teofilus (L) = sahabat Allah Luk 1:4 & Kis 1:1

Timotius (L) = yang saleh 2 Tim 1:5

Tiranus (L) = lalim Kis 19:9

Tirza (P) = bungsu/sangat menyenangkan Bil 26,33 &27:1& 36:11

Titus (L) = burung merpati 2 Kor 7:6 & 3:4-5

Thomas (L) = anak kembar Yoh 11:16



Posted in Lingua | Leave a comment

Arti Nama Huruf Depan C

ARTI NAMA-NAMA ANAK (CAMPURAN)
Dengan Huruf Awal A
A, B, C, D, E, F, G, H, I ,J , K, L , M, N, O, P,Q, R, S,T, U, V, W,X,Y,Z



Nama, P/L ,arti

Calvina (Latin) P = Rambut berkilauan
Canace (Latin) = puteri angin
Chandra (Sansekerta) = Bulan
Chelsea (Anglo) = Kegembiraan
Cheria (Prancis) P = elok
Corinna (Yunani) P = Dara, Gadis
Corydon (Yunani) L = Pria bertopi besi

Ezra (L) = pertolongan Ezra 3:1-3

Fayyadh (Arab)Orang yang mulia

Fawwaz (Arab) orang yang beruntung, unggul, menang

Febe (P) = berseri-seri Roma 16:1-2

Filemon (L) = penuh kasih sayang

Filipus (L) = penyayang kuda Lukas 3:1

Gabriel (L) = pahlawan Allah [malaikat] Dan 8:16

Gamaliel (L) = Allah membebaskan Kis 5:34

Gideon (L) = orang perang Hak 6-8

Gomer (L) Tuhan telah menyempurnakan Kej 10:2

Gad (L) = kejujuran 1 Samuel 22:5

Hagai (L) dilahirkan pada hari raya Hagai 1:9

Hana / Anna (P) = Tuhan memberi kasih karunia Lukas 2:36

Hanani (L) = sangat ramah 1 Taw 25:4,25

Hananya (L) [teman Daniel] Dan 1:6-7

Harun (L) = yang diterangi Kel 6:19 & 7:7

Hawa/Eva (P) = pemberi hidup Kej 2 : 21

Heman (L) = setia 1 Raj 4:31

Henokh (L) = pengikut, ditahbiskan Kej 4:17

Hizkia (L) = Tuhan adalah kekuatanku 2 Raj 18

Hosea (L) = keselamatan 2 Raj 17:1

Isai (L) [ayah Daud] 1 Sam 16

Isakhar (L) = Allah memberi upah Kej 30:13

Ishak (L) = ia tertawa Kej 17:16-22 & 18:10-15

Itamar (L) [putra Harun] Kel 6:23

Jane (P)(Ibrani)Gadis muda, Tuhan Maha Pengasih

Janet (P) Gadis remaja

Kaleb (L) = anjing Bil 13

Kayafas/Kefas (L) = batu karang, gunung batu Luk 3:2 &Mat 26:3,57-58

Kerenhapukh (P) [anak Ayub] Ayub 42:14

Kezia (P) = harum, wangi Ayub 42:14

Klaudia (P) [wanita di Roma] 2 Tim 4:21

Klemens (L) = penuh belas kasihan Fil 4:3

Kleopas (L) = orang yang ayahnya termashur Luk 24:13

Kornelius (L) = yang bertanduk Kis 10:1

Lakeisha (P)(Arab) = hidup sejahtera

Maeko (P)(Jepang)Anak yang jujur

Maggie (P)(Yunani/Gaelik)Mutiara

Matius (L) = pemberian Allah Luk 3:27

Melkisedek (L) = raja Salem / keadilan Ibr 5:7

Misael (L) = siapa seperti Allah Dan 1:7

Mikha (L) = siapa seperti Yahwe Hak 17&18

Mikhael (L) = siapa seperti Yahwe Wahyu 12:7

Mikhael (P) idem 2 Sam 6:16 & 20-23

Milka (P) = ratu

Musa (L) = diangkat dari air Kel 1:15

Naaman (L) = manis, elok 2 Raj 15

Nagata (Jepang)= masa depan cerah

Nisriina (P)(Arab) = Mawar Putih

Odakota (L/P)(Indian Amerika)Kawan/sahabat

Quana (P)(Indian Amerika) Wangi/parfum

Salsabilla (P)(Arab) =Mata air sorga

Sashikirana (Sansekerta) Bulan Purnama

Satinka (P) (Indian Amerika) Tarian ritual

Shasta (P)(Indian Amerika)Pohon

Silas / Silvanus (L) [partner Paulus] Kis 15:22

Simeon (L) = dikabulkan Luk 2:25

Simon (L) = dikabulkan/ didengar Luk 6:15, Mat 27:32

Stefanus (L) = karangan bunga Kis 6&7

Susana (P) = bunga bakung Luk 8:3

Tabita (P) = kijang (ibr= dorkas) Kis 9:36

Tadeus (L) = anak tercinta Mat 10:3

Teofilus (L) = sahabat Allah Luk 1:4 & Kis 1:1

Timotius (L) = yang saleh 2 Tim 1:5

Tiranus (L) = lalim Kis 19:9

Tirza (P) = bungsu/sangat menyenangkan Bil 26,33 &27:1& 36:11

Titus (L) = burung merpati 2 Kor 7:6 & 3:4-5

Thomas (L) = anak kembar Yoh 11:16



Posted in Lingua | Leave a comment

Arti Nama Huruf Awal B

ARTI NAMA-NAMA ANAK (CAMPURAN)
Dengan Huruf Awal A
A, B, C, D, E, F, G, H, I ,J , K, L , M, N, O, P,Q, R, S,T, U, V, W,X,Y,Z

Nama, P/L ,arti

Barnabas (L) anak penghibur Kis 4:36

Bartimeus (L) = dari Timai [orang buta yg disembuhkan Yesus] Mark 10:46

Bartolomeus (L) murid Yesus Matius 10:3

Benito (L)(Itali) mendatangkan berkat

Benyamin (L) yang mendatangkan bahagia Kej 35:16

Berekhya (L) diberkati Allah Matius 23:35

Bilha (P) kerendahan hati Kejadian 29:29 & 30:3-8

Bernike (P) membawa kemenangan Kis 25:13,23

Boas (L) yang cepat, kuat 1 Raja 7:21

Boanerges (L) putera petir

Damaris (P) lemah lembut Kis 17:34

Daniel (L) Allah adalah hakim Dan 1:3-7

Daud / David (L) yang dikasihi 1 Sam 16-30

Debora (P) = lebah Hak 4-5

Didimus (L) = kembar Yoh 11:16 &20:24 &21:2

Dina (P) keadilan, dilindungi Kejadian 34

Dorkas / Tabita (P) = kijang Kis 9:36

Efraim (L) = kesuburan dalam negeri kesengsaraan Kej 41:52

Eleazar (L) = Yahwe menolong Keluaran 6:22

Eli (L) = Yahwe itu tinggi 1 Sam 1:9

Elia (L) = Yahwe adalah pertolongan Kej 15:2-3, Kel 18:4

Elihu (L) = Yahwe adalah Dia Ayub 32 : 2

Elisa (L) = Yahwe adalah keselamatan 1 Raja 19:19

Elizabeth/ Alice Lukas 1:5

Laban (L) = putih [mertua Yakub] Kej 28

Lazarus (L) = Allah menolong Yoh 11, Luk 16:19

Lea (P) = lembu liar Kej 29:16,32

Lidya (P) [orang dari negeri Lidia di Asia Kecil Kisah 16:14

Lukas (L) dilahirkan waktu fajar Kol 4:14

Louis (P) [nenek Timotius] 2 Timotius 1:5

Maleakhi (L) = utusan Tuhan Mal 1:2-5

Maria (P) = putih, gemuk Mat 1:18

Markus (L) Mark 1:1-13

Martha (P) = yang memerintah/ berkuasa Lukas 10:38

MeiLi (P)(China) = cantik berkembang

Matatias / Matias (L) = pemberian Tuhan Luk 3:25, Kis 1:56

Elkana (L) = Allah telah mendapatkannya Kel 6:23

Epafras (L) = yang diingini Kel 1:7& 4:12

Erastus (L) = yang dikasihi Roma 16:23

Esther (P) = bintang Ester 1:1-9

Eunike (P) = yang mencapai kemenangan yang baik 2 Timotius 1:5

Euodia (P) = perjalanan yang baik Filipi

Euthikus (L) = yang berbahagia Kis 20:7-12

Ezra (L) = pertolongan Ezra 3:1-3

Fayyadh (Arab)Orang yang mulia

Fawwaz (Arab) orang yang beruntung, unggul, menang

Febe (P) = berseri-seri Roma 16:1-2

Filemon (L) = penuh kasih sayang

Filipus (L) = penyayang kuda Lukas 3:1

Gabriel (L) = pahlawan Allah [malaikat] Dan 8:16

Gamaliel (L) = Allah membebaskan Kis 5:34

Gideon (L) = orang perang Hak 6-8

Gomer (L) Tuhan telah menyempurnakan Kej 10:2

Gad (L) = kejujuran 1 Samuel 22:5

Hagai (L) dilahirkan pada hari raya Hagai 1:9

Hana / Anna (P) = Tuhan memberi kasih karunia Lukas 2:36

Hanani (L) = sangat ramah 1 Taw 25:4,25

Hananya (L) [teman Daniel] Dan 1:6-7

Harun (L) = yang diterangi Kel 6:19 & 7:7

Hawa/Eva (P) = pemberi hidup Kej 2 : 21

Heman (L) = setia 1 Raj 4:31

Henokh (L) = pengikut, ditahbiskan Kej 4:17

Hizkia (L) = Tuhan adalah kekuatanku 2 Raj 18

Hosea (L) = keselamatan 2 Raj 17:1

Isai (L) [ayah Daud] 1 Sam 16

Isakhar (L) = Allah memberi upah Kej 30:13

Ishak (L) = ia tertawa Kej 17:16-22 & 18:10-15

Itamar (L) [putra Harun] Kel 6:23

Jane (P)(Ibrani)Gadis muda, Tuhan Maha Pengasih

Janet (P) Gadis remaja

Kaleb (L) = anjing Bil 13

Kayafas/Kefas (L) = batu karang, gunung batu Luk 3:2 &Mat 26:3,57-58

Kerenhapukh (P) [anak Ayub] Ayub 42:14

Kezia (P) = harum, wangi Ayub 42:14

Klaudia (P) [wanita di Roma] 2 Tim 4:21

Klemens (L) = penuh belas kasihan Fil 4:3

Kleopas (L) = orang yang ayahnya termashur Luk 24:13

Kornelius (L) = yang bertanduk Kis 10:1

Lakeisha (P)(Arab) = hidup sejahtera

Maeko (P)(Jepang)Anak yang jujur

Maggie (P)(Yunani/Gaelik)Mutiara

Matius (L) = pemberian Allah Luk 3:27

Melkisedek (L) = raja Salem / keadilan Ibr 5:7

Misael (L) = siapa seperti Allah Dan 1:7

Mikha (L) = siapa seperti Yahwe Hak 17&18

Mikhael (L) = siapa seperti Yahwe Wahyu 12:7

Mikhael (P) idem 2 Sam 6:16 & 20-23

Milka (P) = ratu

Musa (L) = diangkat dari air Kel 1:15

Naaman (L) = manis, elok 2 Raj 15

Nagata (Jepang)= masa depan cerah

Nisriina (P)(Arab) = Mawar Putih

Odakota (L/P)(Indian Amerika)Kawan/sahabat

Quana (P)(Indian Amerika) Wangi/parfum

Salsabilla (P)(Arab) =Mata air sorga

Sashikirana (Sansekerta) Bulan Purnama

Satinka (P) (Indian Amerika) Tarian ritual

Shasta (P)(Indian Amerika)Pohon

Silas / Silvanus (L) [partner Paulus] Kis 15:22

Simeon (L) = dikabulkan Luk 2:25

Simon (L) = dikabulkan/ didengar Luk 6:15, Mat 27:32

Stefanus (L) = karangan bunga Kis 6&7

Susana (P) = bunga bakung Luk 8:3

Tabita (P) = kijang (ibr= dorkas) Kis 9:36

Tadeus (L) = anak tercinta Mat 10:3

Teofilus (L) = sahabat Allah Luk 1:4 & Kis 1:1

Timotius (L) = yang saleh 2 Tim 1:5

Tiranus (L) = lalim Kis 19:9

Tirza (P) = bungsu/sangat menyenangkan Bil 26,33 &27:1& 36:11

Titus (L) = burung merpati 2 Kor 7:6 & 3:4-5

Thomas (L) = anak kembar Yoh 11:16



Posted in Lingua | 2 Comments

Membangun Kraton Menurut Kawruh Kalang

16 Februari 1985
Membangun keraton menurut kawruh…




TIDAK mudah membangun keraton Jawa. Unsur arsitektur dasar, yakni bangunan dilihat dari segi fungsi, estetika, dan efisiennya, tak cukup menjamin berdirinya sebuah bangunan tempat tinggal dan tempat bekerja seorang raja. Ada hal-hal, yang mungkin menurut pandangan arsitektur modern tak efisien, tapi menurut konsep arsitektur keraton, semua perhitungan sangat masuk akal. Itulah mengapa Arsitek Josef Prijotomo, 37, mengkhawatirkan pemugaran Keraton Kasunanan Hadiningrat, yang akhir Januari lalu terbakar, akan meleset dari aslinya. Dosen arsitektur di ITS ini pada 1972 pernah mengadakan studi lapangan Keraton Solo.

Ia ditunjuki kitab pegangan baku ilmu bangunan keraton, yang disebut kawruh kalang (ilmu tentang ruang). Kitab berhuruf Jawa ini menguraikan soal kerangka bangunan, prinsip-prinsip ukurannya, hingga bahan yang seharusnya digunakan untuk rumah rakyat hingga rumah raja.

Kitab ini ditulis oleh pihak Dalem Kepatihan Solo, pada 1882 pada zaman pemerintahan Susuhunan Paku Buwono IX (1861-1893). Josef menduga, semua ahli seni bangunan Jawa berpegang pada kawruh kalang. Dalam hal kualitas bahan bangunan, misalnya, kawruh kalang membedakan 16 kondisi kayu jati yang bisa mendatangkan keburukan, dan 11 yang mendatangkan kebaikan. Termasuk di dalamnya, katanya, tempat pohon jati ditanam, umurnya, dan cara penebangannya.

Tampaknya, perihal isi kawruh kalang, cocok dengan keterangan Raden Ngabehi Mintobudojo, bekas juru perencana dan juru gambar bagian bangunan Keraton Yogyakarta.

Sejauh ini, bapak 12 anak berusia 73 tahun ini tampaknya satu-satunya ahli bangunan yang masih sangat hafal segala syarat dan perhitungan bangunan tradisional Jawa. Orang tua ini pesimistis terhadap rencana pemugaran Keraton Solo. Bukan hanya karena ia percaya kepada legenda yang pernah didengarnya. Yakni, umur keraton tersebut tak akan melewati 200 tahun menurut perhitungan tahun Jawa.

Tepatnya, bila Keraton Kartasura pindah ke Desa Solo pada 1744 Masehi, 200 tahun kemudian menurut perhitungan tahun Jawa jatuh pada 1939. Ini tepat tahun meninggalnya PB X. Sesudah itu tak ada lagi raja yang benar-benar diangkat dari putra mahkota, karena PB XI, menurut Minto, bukan putra raja dari permaisuri.

Dan itu, konon, karena pohon beringin di alun-alun Solo pindahan dari Kartasura. Seharusnya, kalau Keraton Solo mau lebih panjang umurnya, mesti ditanam beringin baru.

Tapi alasan Minto yang bisa dipegang dengan logika sekarang, yakni, “Kayu yang seharusnya dipakai memugar keraton apakah masih ada.” Sebab, untuk membangun bangunan utama keraton – antara lain Sasana Sewaka, Sasana Parasdya, Sasana Handrawina – ditentukan kayu jati yang bukan main syaratnya. Yaitu, “Kayu itu harus ditebang dari pohon yang ditumbuhi benalu, dan pohon itu sudah berusia setidaknya 200 tahun.” Sekarang, “Mana ada pohon jati berusia 200 tahun? Paling masih ada yang berusia 40-an tahun saja.”

Ada dugaan bahwa syarat memilih kayu ini berasal dari keyakinan di zaman Hindu. Bukankah keraton Jawa pada dasarnya merupakan campuran seni bangunan menurut Hindu, Islam, dan Eropa. Jika demikian, tentu cara menebang pohon pun ada aturannya, yang kini masih jelas dipegang oleh para ahli bangunan tradisional Bali. Yakni, pohon yang ditebang tak boleh menimpa pohon lain sewaktu roboh. Dan bila pohon berlubang karena serangga, artinya kayu ini tak bisa dipakai membangun keraton. Adapun pembagian ruang keraton, baik Keraton Solo, Yogyakarta, maupun Cirebon, sama. Yakni mengikuti susunan Gunung Mahameru: ada daerah puncak, lalu anak-anak gunung di sekitarnya. Menurut agama Hindu, begitulah susunan dunia ini. Jadi, keraton dianggap miniatur makrokosmos. Pusat keraton, yakni puncak Mahameru itu, disebut dalem ageng atau dalem arum (Cirebon). Inilah tempat tinggal raja, yang di Keraton Solo disebut bangunan Prabasuyasa. Di sinilah kekuasaan raja dirasakan sangat besar, karena ini tempat tinggal pribadi raja. Daerah lingkaran di luarnya disebut negaragung atau negara besar. Batas luarnya, sekarang ini, adalah pelataran dalam. Di sini kekuasaan raja masih terasa besar, karena praktis semua yang ada di sini berjalan menurut kehendak raja. Di luar negaragung dinamakan kawasan mancanegara (luar daerah). Ini sudah agak di luar, tapi belum keluar dari batas teras keraton yang disebut pintu Kemandunan. Di sinilah raja menerima tamu, misalnya. Di luarnya lagi disebut daerah pesisir. Batas luarnya sudah mencapai Sitinggil, bangunan di batas alun-alun dengan keraton. Di pesisir, raja makin jarang muncul, hanya beberapa kali dalam setahun, misalnya bila ada perayaan-perayaan tertentu. Daerah paling luar, yaitu alun-alun, di namakan daerah tanah sabrang (daerah seberang). Ini merupakan simbol samudra (alun = ombak) yang membatasi kawasan keraton dengan luar keraton. Di daerah inilah bangsal pertemuan untuk para bupati – yaitu penguasa suatu daerah yang terletak jauh dari keraton, tapi masih di bawah kekuasaan raja – ditempatkan. Tata ruang ini dimaksudkan memberi kesan bahwa tempat tinggal raja, sebagai penguasa tertinggi dan (dulu) dianggap menjadi penghubung kehidupan duniawi dan dunia Spiritual, tak mudah dijangkau. Dan semakin mendekat ke arah dalem ageng, kualitas arsitektur makin pilihan – baik dari segi bahan maupun desain bangunannya. Satuan ukuran dalam arsitektur tradisional punya ukuran sendiri, tentu. Menurut R. Ng. Mintobudojo,,ada lima jenis hitungan. Pertama, hitungan sri, berarti sandang pangan. Kedua, kitri, harta benda. Ketiga, gono, yang berarti cukup. Keempat, liyu, atau kewibawaan. Kelima, pokah, atau ukuran yang bisa membuat lemas orang. Hitungan itu dalam bangunan diwujudkan dalam jumlah unsur bangunan. Misalnya ukuran kelima, yakni pokah dipakai pada bangunan yang juga dianggap perisai keraton. Misalnya Pagelaran, yang berada di batas antara alun-alun dan bagian keraton. Jumlah usuk dan tiang Pagelaran tentu merupakan kelipatan dari lima. Maka, bila ada yang bermaksud tak baik dan ingin masuk keraton, dan ia lewat Pagelaran, di sini kekuatannya akan susut. Contoh yang lain adalah Sitinggil, di belakang Pagelaran, yang dibangun dengan konsep liyu. Jumlah segala hal di sini merupakan bilangan kelipatan lima lalu ditambah empat. Liyu, yang berarti kewibawaan, maksudnya seseorang asing yang masuk ke sini akan terkena wibawa raja. Hingga, konon, orang itu akan merasa berada di bawah kekuasaan raja. Sedangkan untuk ukuran panjang, arsitektur tradisional Jawa memakai ukuran kaki. Ukuran ini diperoleh dengan cara dua jempol tangan disinggungkan ujungnya hingga membentuk garis lurus, dan jari-jari yang lain tegak lurus dengan empol. Satu kaki adalah dari ujung kelingking yang satu ke ujung kelingking yang lain Satuan panjang yang lain disebut tombak (I tombak = 12 kaki ) dan dim (I kaki = 12 dim ). Dan berapa kaki misalnya tinggi Pagelaran, dikembalikanlah pada kelipatan lima tadi, atau disebut hitungan pokah itu. Lalu, tangan siapakah yang dijadikan pedoman ukuran I kaki? Jawabannya singkat, tangan si pemilik bangunan. Hal-hal seperti inilah, menurut Mintobudojo, mestinya juga dipatuhibila Keraton Solo memang akan dipugar. Minto, yang pernah memugar Pagelaran Keraton Yogyakarta, tak yakin keraton akan punya pamor seperti semula bila kaidah-kaidah itu dilanggar. Mengapa? “Itu yang harus diselidiki oleh para arsitek sekarang ini,” kata Josef Prijotomo dari ITS itu. Orang macam Minto, lulusan STM zaman Belanda, mengikuti keyakinan lama saja, tak pernah mempersoalkan kaidah-kaidah itu. Misalnya, ketika Minto diminta mengganti masjid saka tunggal (bertiang satu) di Yogyakarta dengan tiang beton, akhir 1960-an, ia memang tak mendebat dengan alasan ilmiah. Ia hanya yakin bahwa tiang itu, menurut ilmu seni bangunan Jawa tradisional, lebih kuat dibuat dari kayu jati. Ia lebih baik mengundurkan diri bila tiang diganti beton. Akhirnya, Minto menang. Masjid berdiri dengan tiang kayu jati. Tapi mengapa, bila konsepnya sama, keraton di Cirebon, Kasepuhan misalnya, berbeda dengan Keraton Solo? Juga, sama-sama direncanakan oleh Pangeran Mangkubumi – adik PB II yang akhirnya dinobatkan sebagai Hamengku Buwono I – mengapa Keraton Yogyakarta dan Solo berbeda? Memang ada hal-hal detail, selain ukuran luas tanah, yang menjadikan wibawa dan bentuk bangunan keraton-keraton di Jawa pada akhirnya berbeda. Keraton Yogya, menurut Minto, lebih luas daripada Keraton Solo. Maka, di Yogya jarak antara bangunan satu dan lainnya lebih luas. Beda yang lain, soal ornamen. Ornamen di Solo merupakan tempelan, tak menyatu dengan bahan bangunannya.

Lain dengan di Ngayogyakarta Hadiningrat, ornamen diukirkan pada kayu bahan bangunannya itu sendiri. Tapi, perlukah keraton dibangun seperti aslinya? Mungkin dari sudut nilai peninggalan sejarah, perlu. Tapi menimbulkan pertanyaan pula, untuk apa ruang seluas itu kosong, tak dimanfaatkan.

Misalnya, ruang-ruang itu digunakan sebagai pusat kegiatan kebudayaan tanpa mengurangi nilai monumentalnya, mungkin keraton akan kembali “berfungsi”, tak menjadi benda mati yang setiap hari tertentu dikasih sesaji.

Posted in Kliping | Tagged , , , , , | Leave a comment

Kenangan Cemal-Cemil 70-an

Era tahun 70-an, saat itu penulis masih anak-anak.
apa saja kenangan tentang cemal-cemil tahun 70-an ini?

Coklat, dibungkus kertas kilap, menjadi berbentuk payung



Posted in Kenangan | Leave a comment

Idiom dan Jargon Bahasa China Di Indonesia, part I

Berikut beberapa idion, jargon ataupun istilah dari China yang kerap dipakai oleh keturunan China di Indonesia (walaupun secara gado-gado — campur aduk, demikian pula dalam pelafalannya, sudah tidak sama seperti yang dilafalkan orang China luar negeri)

BO ING = sibuk, tak ada waktu (bahasa Hokkien, mandarin = hen mang)

CHEONG SAM = Busana khas China

CIA CAY = hanya makan masakan dari tumbuhan, tidak memakan makanan dari hewan atau unsur-unsur hewan.

GIN KANG = ilmu/teknik meringankan tubuh

Ki Cia = terlalu banyak permintaan/tuntutan. Bisa juga berarti orang yang suka meminta pada teman/saudara

MOYONG = eseless, tak berguna. “wah, lu orang moyong” artinya “wah, kamu tak berguna”

Posted in Lingua | Tagged , , , , , , , , , | Leave a comment

Tentang Batavia, Dari Sunda Kalapa Sampai Jakarta



Google


(Seri Histo-Heritage) 

Batavia

Staadhuis -masa kolonial Belanda

Staadhuis -kini menjadi Museum Fatahillah

Nama Batavia berasal dari suku Batavia, sebuah suku Germanik yang bermukim di tepi Sungai Rhein. Bangsa Belanda dan sebagian bangsa Jerman adalah keturunan dari suku ini.

Nama Batavia juga pernah diberikan pada kapal layar tiang tinggi yang cukup besar buatan Belanda (VOC), dibuat pada 29 Oktober 1628, dinahkodai oleh Kapten Adriaan Jakobsz. Tidak jelas sejarahnya, entah nama kapal tersebut yang merupakan awal dari nama Betawi- Batavia, atau bahkan sebaliknya, pihak VOC yang menggunakan nama Batavia untuk menamai kapalnya. Kapal tersebut akhirnya kandas di pesisir Beacon Island, Australia Barat. Dan seluruh awaknya yang berjumlah 268 orang berlayar dengan perahu sekoci darurat menuju kota Batavia ini.
(*)

Vue de la ville de Batavia 1780
Lukisan Batavia di Tahun 1780

Bukti tertua mengenai eksistensi permukiman penduduk yang sekarang bernama Jakarta adalah Prasasti Tugu yang tertanam di desa Batu Tumbuh, Jakarta Utara. Prasasti terebut berkaitan dengan 4 prasasti lain yang berasal dari zaman kerajaan Hindu, Tarumanegara ketika diperintah oleh Raja Purnawarman. Berdasarkan Prasasti Kebon Kopi, nama Sunda Kalapa (Sunda Kelapa) sendiri diperkirakan baru muncul abad sepuluh.

Permukiman tersebut berkembang menjadi pelabuhan, yang kemudian juga dikunjungi oleh kapal-kapal dari mancanegara. Hingga kedatangan orang Portugis, Sunda Kalapa masih di bawah kekuasaan kerajaan Hindu lain, Pakuan Pajajaran. Sementara itu, Portugis telah berhasil menguasai Malaka, dan tahun 1522 Gubernur Portugis d’Albuquerque mengirim utusannya, Enrique Leme yang didampingi oleh Tomé Pires untuk menemui Raja Sangiang Surawisesa. Pada 21 Agustus 1522 ditandatangani perjanjian persahabatan antara Pajajaran dan Portugis. Diperkirakan, langkah ini diambil oleh sang raja Pakuan Pajajaran tersebut guna memperoleh bantuan dari Portugis dalam menghadapi ancaman Kesultanan Demak, yang telah menghancurkan beberapa kerajaan Hindu, termasuk Majapahit. Namun ternyata perjanjian ini sia-sia saja, karena ketika diserang oleh Kerajaan Islam Demak, Portugis tidak membantu mempertahankan Sunda Kalapa.

Jayakarta

Bandar Sunda Calapa diserang oleh tentara Demak pada 1526, yang dipimpin oleh Fatahillah, Panglima Perang asal Gujarat, India, dan jatuh pada 22 Juni 1527, dan setelah berhasil direbut, namanyapun diganti menjadi Jayakarta. Setelah Fatahillah berhasil mengalahkan dan mengislamkan Banten, Jayakarta berada di bawah kekuasaan Banten, yang kini menjadi kesultanan. Orang Sunda yang membelanya dikalahkan dan mundur ke arah Bogor. Sejak itu, dan untuk beberapa dasawarsa abad ke-16, Jayakarta dihuni orang Banten yang terdiri dari orang yang berasal dari Demak dan Cirebon.

Sampai Jan Pieterszoon Coen menghancurkan Jayakarta (1619), orang Banten bersama saudagar Arab dan Tionghoa tinggal di muara Ciliwung. Selain orang China, semua penduduk ini mengundurkan diri ke daerah kesultanan Banten waktu Batavia menggantikan Jayakarta (1619).

Batavia

Pieter Both yang menjadi Gubernur Jenderal VOC pertama, lebih memilih Jayakarta sebagai basis administrasi dan perdagangan VOC daripada pelabuhan Banten, karena pada waktu itu di Banten telah banyak kantor pusat perdagangan orang-orang Eropa lain seperti Portugis, Spanyol kemudian juga Inggris, sedangkan Jayakarta masih merupakan pelabuhan kecil.

Pada tahun 1611 VOC mendapat izin untuk membangun satu rumah kayu dengan fondasi batu di Jayakarta, sebagai kantor dagang. Kemudian mereka menyewa lahan sekitar 1,5 hektar di dekat muara di tepi bagian timur Sungai Ciliwung, yang menjadi kompleks perkantoran, gudang dan tempat tinggal orang Belanda, dan bangunan utamanya dinamakan Nassau Huis.

Posted in histo-heritage | Comments Off